Terinfeksi! Mengapa Kekuatan Tekad Mudah Menular


Tidak hanya penyakit saja yang bisa menular, kekuatan tekad bisa menular. Pilihan seorang manusia dibentuk secara kuat oleh apa yang kita dipikirkan oleh orang lain, diinginkan, dan dikerjakan, serta apa yang pikir mereka inginkan dari kita. Persoalan seperti ini akan membantu kita dalam mencapai tujuan kekuatan tekad. Sebuah kegagalan tekad mungkin menular, tapi kita juga dapat mempertahankan kontrol diri. Tidak hanya perilaku negatif saja yang bisa menular, pengendalian diri pun bisa menular. Sebagai contoh, seorang perokok yang berhenti merokok, kemungkinan besar bahwa orang-orang yang berada dilingkungan dia pun berhenti merokok. Dari sini dapat diambil bahwa baik kebiasaan buruk dan perubahan positif bisa menular orang ke orang, dan tidak ada orang yang benar-benar kebal darinya.

Manusia memiliki sel otak khusus yang disebut neuron cermin, yang berfungsi untuk melacak apa yang orang lain pikirkan, rasakan, dan lakukan. Ketika neuron cermin ini mengodekan sesuatu sebagai janji hadiah pada orang lain, kita juga ini untuk mengahadiahi diri kita sendiri. Otak kita dapat meniru kegagalan kekuatan tekad dari orang lain dengan cara; pertama, meniru secara tidak sengaja. Ketika kita menemukan dan menyadari diri sendiri secara tidak sadar meniru perilaku orang lain – itu menunjukan bahwa insting kita meniru tindakan orang lain, dan hal tersebut membuat kehilangan kekuatan tekad diri sendiri. Kedua, melalui penularan emosi, kebahagiaan dan kesepian akan menyebar dari orang ke orang lain. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan kekuatan tekad karena ketika  mendapatkan perasaan buruk, kita akan mencari cara untuk memperbaikinya – dan salah satu caranya adalah tergoda dengan godaan. Akhirnya, otak pun dapat menyerah pada godaan ketika melihat orang lain menyerah.

Bukti sosial adalah ketika seluruh suku melakukan sesuatu, kita cendurung untuk melakukannya. Ini adalah salah satu naluri bertahan hidup yang berguna yang datang dari otak sosial. Bukti sosial memiliki kekuatan yang sangat  besar terhadap perilaku kita sehari-hari. Karena, seorang manusia jika belum memiliki pendirian, maka ia akan lebih baik mempercayai suku tersebut. Tetapi ada saatnya kita harus, independent dan lebih jujur, serta berdiri sendiri untuk menjadi pemimpin bukan pengikut. Bukti sosial dapat memperkuat pengendalian diri ketika kita percaya bahwa melakukan hal yang benar adalah normanya.

Kekuatan yang seharusnya dimiliki seorang manusia yaitu rasa malu dan kebanggaan. Ketika memikirkan suatu pilihan, manusia sering membayangkan diri sendiri sebagai objek evaluasi orang lain. Studi menunjukan bahwa hal ini dapat memberikan dorongan kuat untuk pengendalian diri. Emosi sosial seperti rasa malu dan kebanggaan mempunyai pengaruh yang lebih cepat dan berdampak langsung atas pilihan rasional tentang biaya jangka panjang dan manfaatna, hal ini disebut dengan panas pengendalian diri. Tetapi rasa malu ini mempunyai batasan, bahkan rasa malu dapat menginspirasi sabotase diri dibandingkan dengan pengendalian diri. Sebagai contoh ketika penjudi kalah ia akan merasakan malu, namun karena malu tersebut ia akan berjudi lagi untuk menutupi rasa malu dan mengembalikan kerugian. Sedangkan kebanggaan. Akan meningkatkan variabilitas jantung dan meningkatkan cadangan fisologis kekuatan tekad. Ketika kita mempunyai kebanggaan dan menghadapi tantangan kekuatan tekad, akan membuat kita yakin bahwa ketika orang lain akan menghalangi keberhasilan dan mengawasi kita, kita akan lebih termotivasi untuk selalu melakukan hal yang benar.


Komentar