What The Hell: Bagaimana Perasaan Yang Buruk Membuat Kita Menyerah
Perasaan buruk seperti
marah, sedih, ragu, cemas dan stress akan membangkitkan otak untuk menyerah
dalam menghadapi godaan seperti merokok, makanan manis, belanja. Itu terjadi
karena ketika kita stress otak kita mengaktifkan sistem penghargaan untuk mengatasi
stress. Perasaan buruk akan membuat kita menyerah dalam pengendalian diri.
Sehingga kita harus menghilangkan strategi kontrol seperti rasa bersalah ,
kritik diri sendiri yang bisa menimbukan perasaan buruk.
Otak sangat rentan
terhadap godaan saat kita merasa buruk. Sehingga, ketika kita stres akan
menyebabkan ketagihan karena salah satu bentuk penyelamatan otak. Setiap kali
stress, otak akan mengarahkan kita kepada sesuatu yang dianggap bahagia.
Perasaan buruk dan negatif akan mengubah otak mencari janji hadiah, sehingga
kita akan yakin bahwa “hadiah” adalah salah satu cara untuk merasa lebih baik.
Bahkan ketika stress, setiap godaan yang berupa janji hadiah akan berubah
menjadi lebih menggoda untuk dilakukan. Stress akan mengarahkan kita menuju ke naluri
yang paling tidak membantu kita.
Startegi manajemen terror
adalah sesuatu yang mungkin untung bagi perusahaan tetapi rugi bagi kita yang
nonton tanyangan tersebut. Ketika menonton suatu tayangan atau hal yang membuat
kita ingat kepada kematian, membuat kita lebih rentan terhadap godaan, karena
hal itu disebabkan kita mencari rasa aman dalam hal-hal yang menjanjikan hadiah
dan pemulihan. Sebagai contoh, studi menunjukan bahwa ketika pelanggan diminta
untuk mengingat kematian, pembeli tersebut bersedia untuk menghabiskan lebih
banyak cokelat dan kue untuk menenangkan dirinya. Itu terjadi karena ketika
mengingat kematian kita menjadi stress dan membuat neuron dopamine menjadi
lebih bersemangat oleh godaan. Menurut manajemen terror, semakin mengerikan gambar/video/atau
hal lainnya, akan mendorong kita untuk menghilangkan stress dan kecemasan
dengan melakukan atau menyerah terhadap godaan.
Efek What-The-Hell akan membuat perasaan
bersalah tidak berfungsi. Efek ini merupakan sebuah ancaman terbesar bagi kekuatan
tekad, efek ini menggambarkan siklus pemanjaan, penyesalan, dan pemanjaan yang
lebih besar. Salah satu, efek ini bisa terlihat dalam pelaku diet, ketika ia
makan makanan lebih banyak dari orang lain, akan menimbulkan rasa bersalah.
Namun, bukannya rasa berasalah tersebut menyelesaikan menurunkan berat badan,
tetapi mereka akan terus makan kembali untuk memperbaiki rasa berasalah. Siklus
What-The-Hell ini dapat terjadi pada semua tantangan kekuatan tekad. Jika kita
berada dalam siklus ini menyebabkan kegagalan kekuatan tekad semakin besar, dan
lebih banyak penderitaan ketika kita menyelahkan diri karena menyerah lagi.
Memaafkan diri sendiri merupakan langkah yang bisa dilakukan untuk
menghilangkan siklus ini, bukannya rasa bersalah, karena rasa bersalah akan
menimbulkan perasaan buruk yang dapat membuat kita menyerah.
Untuk menghindari
perasaan buruk bisa dilakukan dengan mendapatkan perasaan yang menyenangkan.
Perasaan menyenangkan bisa didapatkan dengan menetapkan tujuan yang sederhana
karena hal tersebut akan membuat kita merasa lebih baik. Memulai dari kecil
ketika berusaha menggapai lebih besar adalah sesuatu yang baik, karena ketika
kita gagal menggapai tujuan yang besar akan memicu rasa bersalah seperti
depresi, keraguan diri, dan stress.
Komentar
Posting Komentar